Money Changer

Banyak orang yang menuliskan bandara sebagai tempat favorit mereka. Alasannya bermacam-macam,katanya di bandara kita bisa melihat senyuman bahagia dan air mata sedih dalam satu paket. Alasan lainnya bandara itu tempat yang penuh inspirasi untuk menulis sebuah cerita. Bener banget, kayaknya ga kehitung novel yang bercerita tentang satu sesi kehidupan yang dihabiskan di bandara, atau film tentang hidup di bandara seperti The Terminal-nya Tom Hanks. Bandara,taman kota,bioskop,restoran,panti asuhan,jalan raya semuanya tempat menarik buat menjadi latar belakang suatu cerita asalkan kita mau mengamati interaksi dan komunikasi yang terjadi disana.

Buat saya ada satu tempat lagi yang ternyata cukup menarik untuk memperhatikan tingkah laku orang-orang. Tempat itu bernama Money Changer. Bila kita cukup beruntung dan menemukan Money Changer yang tepat itu seperti datang ke bandara internasional dimana banyak berkumpul orang-orang dari berbagai negara. Bedanya disini mereka tidak terburu-buru. Waktu dilalui seperti biasa tanpa harus berkejar-kejaran membawa koper dan paspor. Di Money Changer tidak jarang terlihat banyak orang-orang dengan baju bagus,rambut tertata,sepatu bermerek menukarkan segepok dollarnya ke rupiah atau sebaliknya. Hal yang paling menarik dilihat adalah ekspresi mereka ketika menerima uangnya. Ada yang tersenyum,bingung, ada juga yang tampak acuh tidak acuh dengan uang berjuta-juta di amplop yang dipegangnya.

Suatu hari ketika saya sedang duduk mengantri di Money Changer di daerah Bandung mata saya bertemu dengan mata seorang bapak yang juga sedang duduk mengantri. Matanya ramah begitupun senyum spontannya. Penampilannya sangat sangat sederhana, cuma celana,kaos kumal dan…sandal jepit bermerek Swallow. Penampilannya kontras sekali dengan pakaian orang-orang di sebelahnya. Bapak-bapak ini kira-kira berumur sekitar 40an,mukanya lusuh dan terlihat bingung dengan jalur antrian money changer. Ketika petugas memanggilnya ke loket pertama dia pun tampak terlihat malu-malu mengeluarkan ktp dan uang dollarnya. Mungkin dia baru pertama kali datang ke sana,pikir saya. Dollar Amerika yang ditukarkan tidak banyak,sepertinya jumlahnya kurang dari 200 atau 300 ribu.Kemudian nomor antrian saya pun dipanggil dan perhatian saya pun lepas dari bapak itu.

Pulangnya,saya kembali melihat bapak itu. Dia pulang sambil berjalan kaki sambil tangannya menghitung rupiah yang ia dapatkan. Bapak itu tersenyum sangat senang, terlihat berkali-kali dia menghitung dua lembaran merah dan satu lembar biru sambil melihat ke atas dan komat-kamit mungkin mengucapkan syukurnya. Saya sengaja melambatkan mobil sambil mengikuti bapak itu. Senyumnya tidak lepas sepanjang jalan,dan yang paling menarik adalah matanya. Matanya merah seperti habis menangis dan ekspresinya, tidak dapat dijelaskan, antara senang,terharu dan bersyukur.  Entahlah,antara dia jarang memegang uang sejumlah itu atau mungkin Dollar yang dia tukarkan itu adalah hasil kerja kerasnya selama ini.

Untuk sebagian dari kita mendapatkan uang 250 ribu merupakan hal yang biasa dan bahkan bisa habis dalam waktu 5 menit saja. Tapi untuk bapak ini,dari sekilas ekspresinya saja saya bisa melihat bahwa uang itu adalah hal yang sangat berharga sampai membuatnya menangis di pinggir jalan raya. Mungkin saja uang itu dipakai untuk membuka modal usaha dan dia bisa menghidupi keluarganya dan membeli sandal jepit baru menggantikan sandal jepit lamanya yang sudah sangat kotor.Semoga saja hari itu Money Changer merubah hidupnya seperti mata dan ekspresi bapak itu yang mengubah pandangan saya untuk lebih menghargai uang.

Money Changer pun menyadarkan saya bahwa ada cerita tentang kesederhanaan dari tempat paling penuh uang sekalipun.

 

 

Advertisements

3 comments

  1. Semoga Bapak itu dan segenap keluarganya masuk Surga.

    This is such a beautiful and heart warming story, My, I especially love the punch line.

    Kalau ketemu lagi, ajak ngobrol yaaa,, like the perverted old man yang jual timbangan di ATM Mandiri Riau. Masih inget? Hahahaa

  2. Sukaaaaaa baca ceritanya!! bacanya ikut senyum. *jempol*
    iya, pernah baca tulisan lo yang bapak2 tua pembawa timbangan di mandiri riau. Dia apa kabar ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s