The Art of Letting (your dream) Go

Seorang sahabat yang sangat mengenal saya baru-baru ini mengatakan betapa naifnya saya dulu karena menganut paham Happy Ending does exist and fairy tales actually come true. Kenapa saya mengatakan dulu? Karena akhirnya dunia mengajarkan saya bahwa ada mimpi-mimpi yang tidak bisa kita capai..sejauh apapun kita berusaha.Bukannya saya menjadi seseorang yang pesimis, tapi dalam hal mimpi yang sudah mati-matian kita perjuangkan tapi belum berhasil salah satu solusinya adalah pindah aliran dari aliran hati jadi aliran logika.

“Lah kalau mimpi itu ternyata bisa tercapai tapi kitanya sudah keburu pindah aliran jadinya gimana?”

Kalimat diatas adalah kalimat pembenaran dari sebuah perjuangan mencapai mimpi dan memang benar sekali. Tapi sebenarnya, kita sendiri yang harus mengukur apakah kita sudah sampai tahap terlalu sakit dan terlalu letih sampai mengacaukan ritme hidup kita ? Kalau jawabannya ya,,mungkin mimpi itu harus dilepaskan, atau setidaknya dipindahkan ke aliran logika..

“Lalu mimpi apa yang paling sulit dilepaskan?”

Menurut saya mimpi yang paling sulit dilepaskan adalah cinta  yang sudah bertransformasi menjadi sebuah mimpi. Bahasa dangdutnya itu DUET MAUT RACUN HATI

Bagaimana coba caranya kita melepaskan cinta yang sudah terlanjur kita proyeksikan menjadi masa depan kita?

Move on,ikhlas,lepasin aja,cari pengganti,cari mimpi-mimpi baru,dll etc..

Apa segampang itu ? Tidak, dan tidak akan pernah segampang itu walaupun dengan jalan pintas seperti hypnotherapy sekalipun.Dunia selalu punya its own version of happy ending..

Jadi harus bagaimana?

Sejujurnya saya pun tidak tahu jawabannya, yang saya tahu di waktu malam-malam kamu menangis karena mimpi itu hilang maka anggaplah tangisan itu bukan sebuah kemunduran tapi jalan yang harus dilalui biar berhasil move on..dan mencapai happy ending versi dunia atau setidaknya mendekati our own version of happy ending..

Advertisements

One comment

  1. Sebagai perempuan yang sudah menyerah pada happy ending sejak bertahun-tahun lalu, seharusnya gue bisa kasih solusi ya…

    Tapi ternyata nggak. Because there’s no such thing as moving on. Kamu mungkin akhirnya menyerah pada keadaan. Kamu mungkin akhirnya tahu apa itu ikhlas (meski mesti melalui proses yang makan waktu bertahun-tahun). Tapi, akan selalu ada saat-saat di mana kamu mempertanyakan, bahkan tanpa perasaan sedikit pun, berbagai jalan yang akhirnya tidak jadi atau bisa kamu tempuh. Dan itu manusiawi. Karena hati dan logika bukan musuh. Mereka adalah teman yang berjalan beriringan. You just have to find the balance.

    Believing in happy ending is not a flaw, My. You can believe in anything you want. Let your heart sets the destination and your logic finds the way to get there 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s