London part 1, The city where time stops

Akhirnya setelah 16 jam duduk di pesawat, tanpa mandi apalagi sikat gigi rombongan tour saya nyampe juga di London dan langsung oleh disambut keramaian Bandara Heathrownya. Memang tidak salah Bandara ini disebut sebagai salah satu yang paling sibuk di dunia. Orang-orang dari berbagai bangsa tampak dengan sabar mengantri di imigrasi dan sabar juga menunggu antrian mengambil koper bagasi. Bandara ini sangat besar dan benar-benar bersih. Namun berbeda dengan Soetta di Heathrow jatah wifi hanya bisa tersambung 30 menit saja per 1 akun. Untunglah kartu XL yang saya bawa dari Indonesia langsung tersambung dengan provider lokal sehingga tidak ada masalah untuk komunikasi, apalagi untuk update Instagram dan Path karena koneksi internetnya sangat cepat bahkan lebih cepat dari wifi di Heathrow. Untuk orang Indonesia yang sudah terbiasa dengan internet super lelet koneksi super cepat ini benar2 anugerah. Sebetulnya kalau mau membeli simcard di sana pun juga bisa beli di mesin yang sudah tersedia.

Mesin Sim Cards

Bentukan Mesin Sim Cards

Tempat mengambil koper bagasi. Sebetulnya sama aja sih kayak bandara yang lain tapi bandara yang ini super luas dan kebersihannya terjaga

Tempat mengambil koper bagasi. Sebetulnya sama aja sih kayak bandara yang lain tapi bandara yang ini super luas dan kebersihannya terjaga

Akhirnya rasa penasaran saya sama Heathrow terbayar sudah. Bandaranya memang sesibuk dan sebesar itu, tetapi tetap saja belum mengalahkan antrian orang-orang di Bandara Soekarno Hatta atau di Bandara Hussein Sastranegara Bandung.

Keluar dari Heathrow kami disambut cuaca London yang ALHAMDULILLAH DINGIN TAPI GAK HUJAN. Tahu sendiri kan predikat London sebagai kota PHP (Pemberi Harapan Palsu) kalau soal cuaca. Keluar dari Heathrow kami langsung naik bis buat keliling kota sesuai jadwal. Kesan pertama yang saya tangkap dari London adalah BOOOOK INI KOTA RAPI-RAPI AMAT. Latar belakang Postcard dimana-mana! Selfie dimanapun bagus kayaknya. Cantik banget kotanya, rapi dan teratur. Kesan pertama saya adalah, gak ada yang salah sama kota ini. Kesan pertama loh ya, selanjutnya kan terserah dompet =P

449

Pemukiman di London

London City

IMG_3290

Autumn in London

IMG_3304

Look at the car

Oiya,rombongan tour kami kira-kira terdiri dari 20 orangan. Dari Nenek-nenek gaul umur 73 tahun sampai tante-tante kece pun ada. Anak mudanya cuma bertujuh. Empat diantaranya lagi Honeymoon. Saya sama si adik yang masih jomblo terpaksa gigit jari aja sih. Tour Leadernya cuma 1 namanya Pak Yusuf. Orangnya kocaaaaak banget astaganaga. Sule aja kalah. Pak Yusuf ini sudah malang melintang di dunia pertravelan. Pak Yusuf inilah yang sukses membuat rombongan tour kami seperti keluarga. Tapi untuk London dan Paris harus ada 1 warga lokal yang sudah punya lisensi sebagai pemandu wisata untuk menemani turis internasional keliling tempat wisata. Tour Guide di London ini nenek-nenek yang rambutnya udah putih semua tapi masih kuat jalan jauh. Dia cerita kalau ekonomi yang lagi turun bikin warga London ramai-ramai mencari pekerjaan tambahan, salah satunya dengan menjadi guide lokal ini.

Kembali ke kotanya Kate Middleton ini, London terdiri dari 6 zona atau daerah. Menara Buckingham,Big Ben,dan The London eye terletak di zona 1. Beda zona beda pula harga barang-barangnya. Contohnya kopi dengan merek yang sama di zona 1 bisa dijual dengan harga dua kali lipat dibandingkan zona 3. Waktu saya kesana harga 1 poundsterling mencapai 19000 rupiah. Sedangkan kopi saja dijualnya 2-3 euro. Berkali-kali lipat harganya dibandingkan kios pinggir jalan di Indonesia.

First stop kami adalah Buckingham Palace. Saya kira istana ini suasananya syahdu sendu gimana gitu yaa tapi ternyata di depan gerbang penuh sekali dengan wisatawan.

In front the Buckingham. Pangeran Harry mana Pangeran Harry

In front the Buckingham. Pangeran Harry mana Pangeran Harry

Gerbang Istana Buckingham

Gerbang Istana Buckingham. Cakep banget detilnya

IMG_3302

Gerbang Istana Buckingham

IMG_3295

Ini The Victoria Memorial yang terletak di Queen’s Garden di depan istana. Patung ini buatan Sir Thomas Brock yang dipersembahkan untuk Ratu Victoria.

Istana ini bersih dari coretan xxx was here atau I love you xxx. Bahkan di tamannya pun jarang terlihat sampah. Penjaganya pun benar-benar standing still dan gak bereaksi walaupun dilihatin ratusan orang. Sayangnya karena keterbatasan waktu kami hanya sebentar saja di istana ini dan harus melanjutkan perjalanan. Supir Bus kami seorang kakek-kakek yang sangat ramah dan gak keberatan kalau ditanya-tanya. Memang dasarnya saya suka mengobrol dengan supir taksi atau tukang becak dan biasanya selalu saja ketemu sama supir yang hidupnya aneh-aneh bin ajaib. Tak terkecuali si kakek ini. Meskipun pekerjaannya supir bus tapi dia punya rumah di Filipina dan sering liburan ke berbagai tempat. Dia sudah lama sekali menjadi supir bus dan sudah tahu London sampai ke pelosok-pelosoknya. Sayang saya gak sempat berfoto dengan beliau.

Next stop was Big Ben!! Karena si Ben itu ada di pinggir jalan dan tidak ada tempat parkir yang dekat maka Bus kami berhenti sekitar 500 meter di gedung perkantoran di daerah Lambeth. Gedung perkantorannya ini kayak gedung kantor di Jakarta. Biasa aja, tapi begitu belok sedikit langsung keliatan Big Ben dan London eye. Inilah mungkin kenapa London disebut kota dimana jaman klasik dan jaman modern bertemu. Untuk mencapai Big Ben kita harus menyusuri Westminster Bridge. Jembatan panjang yang dikelilingi beberapa Landmark seperti London Eye dan Big Ben ini menghubungkan daerah Lambeth dan daerah Westminster.

Hello Ben

Hello Ben

IMG_3326

Thames River

IMG_3332

Westminster Bridge

IMG_3297

The London Eye, salah satu landmark kota London yang ada di seberang Big Ben

IMG_3309

London Eye di seberangnya Big Ben.              Liat deh jalanannya bersih banget yaa

Big Ben ini memang luar biasa megah. Saking megah dan keasikan foto-foto saya adik dan 1 pasangan suami istri terpisah dari anggota yang lain. Nah loh, nyasar kok di London. Nyasar di Jakarta aja saya masih bingung apalagi ini.  Akhirnya kami kembali ke tempat parkir bus tadi tapi busnya udah gak ada. Nah loh!! Mana telepon dan bbm pemandu tur kami tidak bisa dihubungi. Akhirnya kami bolak balik menelusuri ujung ke ujung Westminster Bridge tapi ga ketemu-ketemu juga. Takutnya rombongan sudah meninggalkan kami karena mengejar jadwal makan siang. Untungnya nyasar di London ya biar capek juga tetap aja mata seger lihat kanan kiri dan saya tetep curi-curi foto bangunan. Akhirnya setelah setengah jam muter-muter Big Ben ketemu jugalah bus rombongan kami. Ternyata mereka ada di seberang di jalan belakang Big Ben dan tidak kelihatan oleh kami karena letaknya cukup jauh. Ya salam. Agak-agak gak enak sih soalnya jadwal tur jadi agak berantakan apalagi kan baru pada kenal tapi ternyata Tante-Tante dan Om-Om ini orangnya asik asik dan gak masalahin. Buat saya nyasar ini membawa berkah karena bonus setengah jam keliling-keliling westmister bridge dan jalan-jalan di sekitarnya.

IMG_3325

Mbak-Mbak Kesasar

IMG_3336

Tetep foto-foto walaupun nyasar

Sesaat sebelum nyasar

Sesaat sebelum nyasar

(to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s