Sudahkah kamu menghitung hal yang perlu disyukuri hari ini?

Beberapa waktu lalu saya sedang makan di sebuah warung soto yang sudah berdiri sejak saya masih jaman SMP. Sotonya enak, teman-teman ngobrolnya pun sahabat-sahabat dekat yang sudah seperti keluarga sendiri. Intinya hari itu nyaman sekali, dan saya butuh hari itu setelah 3 minggu berjibaku dengan ketegangan demi ketegangan menjaga ibu saya yang dirawat di rumah sakit di negara orang. Tiba-tiba datang perempuan muda membawa bayi mengadahkan tangannya meminta uang. Saya familiar dengan wajahnya, perempuan ini sudah lama menjadi peminta di daerah warung soto tersebut. Refleks saya mencari uang kecil di dompet dan tas. Agak lama saya mencarinya dan saya melihat reaksi perempuan tersebut bosan menungu. Akhirnya saya tidak menemukan uang kecil selain 100 rupiah, kalaupun ada itu pecahan 10 ribu yang saya simpan untuk naik angkot dan membayar makanan. Dengan tidak enak hati dan berkata “Punten” (Permisi dalam bahasa Sunda) saya memberi 100 rupiah kepada perempuan yang membawa bayi ini. Reaksi perempuan ini tidak bisa saya lupakan. Dia menatap uang 100 rupiah itu dengan meremehkan dan kemudian melihat saya dengan tatapan yang terlihat seperti jijik,dan marah kemudian melengos pergi. Tatapan itu begitu menusuk saya dan ketika dia melengos itu saya refleks berkata “Maaf Mbak, gak ada lagi”. Dia tidak membalas dan terus pergi.

Mungkin salah saya yang memberi sedekah terlalu kecil atau standar “serelanya saja” sudah berubah? Tidak tahulah. Saya masih percaya kalau niat baik pasti dicatat oleh Tuhan walaupun tidak semua orang bisa menerima niat baik orang lain dengan bersyukur. Bersyukur, kata ini yang selama 3 minggu menjadi kata penolong di kala harus melihat ibu saya menjalani tes demi tes yang tidak sederhana di negara yang tidak murah itu. Bersyukur adalah kata yang menjadi sandaran ketika di minggu kedua dirawat pun belum ada kejelasan mengenai penyakit yang membuatnya menangis kesakitan selama berbulan-bulan. Bersyukur adalah hal yang menguatkan ketika adik dan bapak saya harus pulang ke Indonesia karena harus bekerja dan tinggal ibu dan saya berdua di rumah sakit harap harap cemas menanti kunjungan demi kunjungan dokter. Bersyukur sekali ketika akhirnya pesawat kami lepas landas menuju kampung halaman walaupun pengobatan penyakit ini belum selesai sepenuhnya.

Maka saya mulai mengumpulkan hal-hal yang harus disyukuri satu persatu dan ternyata di waktu yang paling buruk pun anugrah yang diberikan Tuhan masih tidak bisa dihitung. Saya belajar dari waktu-waktu penuh rasa sesak,air mata,dan hampir putus asa bahwa mendapatkan 100 rupiah secara cuma-cuma pun sesungguhnya adalah rejeki dari Tuhan..

Sudahkah kamu menghitung hal yang perlu disyukuri hari ini?

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s