Life

London Part 2

Setelah anak-anak hilangnya ketemu rombongan kami pun berangkat buat makan siang, yaay! Perut kami semua sudah pada bunyi mengingat sarapannya di pesawat. Untungnya restoran yang dipilih cuma berjarak sekitar 15 menit dari daerah Westminster. Nah begini nih tampak depan gedung restorannya. Namanya The Ivory Building. Nama restorannya? entahlah. Berhubung perut udah lapar berat jadi gak merhatiin nama-nama atau lihat-lihat sekeliling.

Tampak depan si Restoran

Ternyata restoran ini lucu banget. Konsepnya nih pengunjung seperti makan di  restoran abad pertengahan, bahkan meja kursi sampai mangkok dan cangkirnya pun persis seperti jaman dulu. Seragam pelayannya juga seperti seragam pelayan jaman pertengahan dulu. Terusan putih lebar dengan vest coklat. Niat abis! Bisalah berkhayal dikit gimana rasanya kalau makan siang bareng King Arthur dan Sir Lancelot.

Lunch with King Arthur, shall we

Makanannya standar sih, Fish and Chips dan Sup Tomat yang langsung ludes gak sampai 10 menit. Rasanya? Ikannya enak dan gede-gede, tepungnya tuh berasa banget bumbunya tapi kentang gorengnya terbilang standar. Endingnya kami kenyang dan bahagia. Hahaha.

Keluar dari restoran ketemu ini. Kunci mana kunci ?

Selesai makan rombongan kami diajak berkeliling London lagi. Ajaib memang kota ini, cantik semua dimana-mana. Ya penataannya, bangunannya,fashionnya. Jiwa turis saya bilang kota ini bakal jadi the best city yang kunjungi diantara semua kota-kota di Eropa Barat. Nah itu dia kata kuncinya, Turis

“London memang bagus banget buat menarik Turis” kata teman saya,Manda yang lagi kuliah di London. Tapi buat hidup, lain lagi ceritanya. Apalagi buat mahasiswa yang mengandalkan beasiswa. Hidup di London ternyata sangat mahal. More on this latter.

Kami diajak melewati Picadilly Circus atau persimpangan yang terkenal karena banyak papan iklannya yang ditempel di bangunan-bangunan tua di sekitarnya. Mungkin fungsinya mirip-mirip kayak Times Squarenya New York kali ya. Bangunan-bangunan ini mengelilingi air mancur dan patung bernama Eros. Picadilly is one of the bussiest squares in London Karena lokasinya strategis, tempat ini sering jadi meeting point atau sekadar tempat duduk-duduk sambil ngeceng.  Eh orang London ngeceng juga gak ya? Saya sih puas ngeceng di London =P

Picadilly Circus (Gambar dari Wikipedia)

and I was like, oooh ini toh Picadilly yang tersohor itu. Yang jadi sumber lirik lagu band kesukaan saya, Woke up in London yesterday Found myself in the city near Piccadilly. Don’t really know how I got here -One Republic, Good LIfe

image

Busy Time

Suasana di London

JJS, jalan-jalan sore yuk

photo

IMG_3312

Bus khas London

and our next stop was Madam Tussaud Musseum….

Tips

1. Ruginya ikut tur memang kita tidak bisa buat itinerary sendiri dan kadang-kadang di satu tempat wisata waktu kita sangat dibatasi, kadang cuma 10 menit buat foto-foto doang. Intinya sih yang penting ada fotonya. Kalau kamu termasuk yang pengen bebas keliling-keliling sampai berjam-jam ikut tur seperti ini mungkin agak kurang cocok. Tapi buat yang baru pertama kali ke Eropa dan pengen makan terjamin,hotel berbintang dan kemana-mana gak capek berarti ikut tur memang pilihan yang terbaik

2. Perhatikan baik-baik itinerary yang kita dapat.  Jangan tergiur dengan banyaknya tempat yang disebut di jadwal perjalanan tersebut. Karena jika ditulis MELEWATI A,B,C,D,Z yaa bisa saja memang literally benar-benar melewati.  Mengunjungi dan melewati ternyata benar-benar punya arti yang beda banget..

 

London part 1, The city where time stops

Akhirnya setelah 16 jam duduk di pesawat, tanpa mandi apalagi sikat gigi rombongan tour saya nyampe juga di London dan langsung oleh disambut keramaian Bandara Heathrownya. Memang tidak salah Bandara ini disebut sebagai salah satu yang paling sibuk di dunia. Orang-orang dari berbagai bangsa tampak dengan sabar mengantri di imigrasi dan sabar juga menunggu antrian mengambil koper bagasi. Bandara ini sangat besar dan benar-benar bersih. Namun berbeda dengan Soetta di Heathrow jatah wifi hanya bisa tersambung 30 menit saja per 1 akun. Untunglah kartu XL yang saya bawa dari Indonesia langsung tersambung dengan provider lokal sehingga tidak ada masalah untuk komunikasi, apalagi untuk update Instagram dan Path karena koneksi internetnya sangat cepat bahkan lebih cepat dari wifi di Heathrow. Untuk orang Indonesia yang sudah terbiasa dengan internet super lelet koneksi super cepat ini benar2 anugerah. Sebetulnya kalau mau membeli simcard di sana pun juga bisa beli di mesin yang sudah tersedia.

Mesin Sim Cards

Bentukan Mesin Sim Cards

Tempat mengambil koper bagasi. Sebetulnya sama aja sih kayak bandara yang lain tapi bandara yang ini super luas dan kebersihannya terjaga

Tempat mengambil koper bagasi. Sebetulnya sama aja sih kayak bandara yang lain tapi bandara yang ini super luas dan kebersihannya terjaga

Akhirnya rasa penasaran saya sama Heathrow terbayar sudah. Bandaranya memang sesibuk dan sebesar itu, tetapi tetap saja belum mengalahkan antrian orang-orang di Bandara Soekarno Hatta atau di Bandara Hussein Sastranegara Bandung.

Keluar dari Heathrow kami disambut cuaca London yang ALHAMDULILLAH DINGIN TAPI GAK HUJAN. Tahu sendiri kan predikat London sebagai kota PHP (Pemberi Harapan Palsu) kalau soal cuaca. Keluar dari Heathrow kami langsung naik bis buat keliling kota sesuai jadwal. Kesan pertama yang saya tangkap dari London adalah BOOOOK INI KOTA RAPI-RAPI AMAT. Latar belakang Postcard dimana-mana! Selfie dimanapun bagus kayaknya. Cantik banget kotanya, rapi dan teratur. Kesan pertama saya adalah, gak ada yang salah sama kota ini. Kesan pertama loh ya, selanjutnya kan terserah dompet =P

449

Pemukiman di London

London City

IMG_3290

Autumn in London

IMG_3304

Look at the car

Oiya,rombongan tour kami kira-kira terdiri dari 20 orangan. Dari Nenek-nenek gaul umur 73 tahun sampai tante-tante kece pun ada. Anak mudanya cuma bertujuh. Empat diantaranya lagi Honeymoon. Saya sama si adik yang masih jomblo terpaksa gigit jari aja sih. Tour Leadernya cuma 1 namanya Pak Yusuf. Orangnya kocaaaaak banget astaganaga. Sule aja kalah. Pak Yusuf ini sudah malang melintang di dunia pertravelan. Pak Yusuf inilah yang sukses membuat rombongan tour kami seperti keluarga. Tapi untuk London dan Paris harus ada 1 warga lokal yang sudah punya lisensi sebagai pemandu wisata untuk menemani turis internasional keliling tempat wisata. Tour Guide di London ini nenek-nenek yang rambutnya udah putih semua tapi masih kuat jalan jauh. Dia cerita kalau ekonomi yang lagi turun bikin warga London ramai-ramai mencari pekerjaan tambahan, salah satunya dengan menjadi guide lokal ini.

Kembali ke kotanya Kate Middleton ini, London terdiri dari 6 zona atau daerah. Menara Buckingham,Big Ben,dan The London eye terletak di zona 1. Beda zona beda pula harga barang-barangnya. Contohnya kopi dengan merek yang sama di zona 1 bisa dijual dengan harga dua kali lipat dibandingkan zona 3. Waktu saya kesana harga 1 poundsterling mencapai 19000 rupiah. Sedangkan kopi saja dijualnya 2-3 euro. Berkali-kali lipat harganya dibandingkan kios pinggir jalan di Indonesia.

First stop kami adalah Buckingham Palace. Saya kira istana ini suasananya syahdu sendu gimana gitu yaa tapi ternyata di depan gerbang penuh sekali dengan wisatawan.

In front the Buckingham. Pangeran Harry mana Pangeran Harry

In front the Buckingham. Pangeran Harry mana Pangeran Harry

Gerbang Istana Buckingham

Gerbang Istana Buckingham. Cakep banget detilnya

IMG_3302

Gerbang Istana Buckingham

IMG_3295

Ini The Victoria Memorial yang terletak di Queen’s Garden di depan istana. Patung ini buatan Sir Thomas Brock yang dipersembahkan untuk Ratu Victoria.

Istana ini bersih dari coretan xxx was here atau I love you xxx. Bahkan di tamannya pun jarang terlihat sampah. Penjaganya pun benar-benar standing still dan gak bereaksi walaupun dilihatin ratusan orang. Sayangnya karena keterbatasan waktu kami hanya sebentar saja di istana ini dan harus melanjutkan perjalanan. Supir Bus kami seorang kakek-kakek yang sangat ramah dan gak keberatan kalau ditanya-tanya. Memang dasarnya saya suka mengobrol dengan supir taksi atau tukang becak dan biasanya selalu saja ketemu sama supir yang hidupnya aneh-aneh bin ajaib. Tak terkecuali si kakek ini. Meskipun pekerjaannya supir bus tapi dia punya rumah di Filipina dan sering liburan ke berbagai tempat. Dia sudah lama sekali menjadi supir bus dan sudah tahu London sampai ke pelosok-pelosoknya. Sayang saya gak sempat berfoto dengan beliau.

Next stop was Big Ben!! Karena si Ben itu ada di pinggir jalan dan tidak ada tempat parkir yang dekat maka Bus kami berhenti sekitar 500 meter di gedung perkantoran di daerah Lambeth. Gedung perkantorannya ini kayak gedung kantor di Jakarta. Biasa aja, tapi begitu belok sedikit langsung keliatan Big Ben dan London eye. Inilah mungkin kenapa London disebut kota dimana jaman klasik dan jaman modern bertemu. Untuk mencapai Big Ben kita harus menyusuri Westminster Bridge. Jembatan panjang yang dikelilingi beberapa Landmark seperti London Eye dan Big Ben ini menghubungkan daerah Lambeth dan daerah Westminster.

Hello Ben

Hello Ben

IMG_3326

Thames River

IMG_3332

Westminster Bridge

IMG_3297

The London Eye, salah satu landmark kota London yang ada di seberang Big Ben

IMG_3309

London Eye di seberangnya Big Ben.              Liat deh jalanannya bersih banget yaa

Big Ben ini memang luar biasa megah. Saking megah dan keasikan foto-foto saya adik dan 1 pasangan suami istri terpisah dari anggota yang lain. Nah loh, nyasar kok di London. Nyasar di Jakarta aja saya masih bingung apalagi ini.  Akhirnya kami kembali ke tempat parkir bus tadi tapi busnya udah gak ada. Nah loh!! Mana telepon dan bbm pemandu tur kami tidak bisa dihubungi. Akhirnya kami bolak balik menelusuri ujung ke ujung Westminster Bridge tapi ga ketemu-ketemu juga. Takutnya rombongan sudah meninggalkan kami karena mengejar jadwal makan siang. Untungnya nyasar di London ya biar capek juga tetap aja mata seger lihat kanan kiri dan saya tetep curi-curi foto bangunan. Akhirnya setelah setengah jam muter-muter Big Ben ketemu jugalah bus rombongan kami. Ternyata mereka ada di seberang di jalan belakang Big Ben dan tidak kelihatan oleh kami karena letaknya cukup jauh. Ya salam. Agak-agak gak enak sih soalnya jadwal tur jadi agak berantakan apalagi kan baru pada kenal tapi ternyata Tante-Tante dan Om-Om ini orangnya asik asik dan gak masalahin. Buat saya nyasar ini membawa berkah karena bonus setengah jam keliling-keliling westmister bridge dan jalan-jalan di sekitarnya.

IMG_3325

Mbak-Mbak Kesasar

IMG_3336

Tetep foto-foto walaupun nyasar

Sesaat sebelum nyasar

Sesaat sebelum nyasar

(to be continued)

Jakarta to London : 11778.41 KM

“Not all those who wander are lost”

                                            JRR Tolkien

Soekarno Hatta to Changi Changi to London

Soekarno Hatta to Changi
                               Changi to London

Tadaaaaa. Here comes the day. Koper siap,perbekalan siap,dan pastinya tongsis sama power bank ga boleh ketinggalan.

Rombongan tour kami berangkat dari Soeta sekitar jam 9 malam,transit di Changi 1 jam saja dan lanjut ke London, tepatnya mendarat di Bandara Heathrow yang sering jadi latar film dan novel itu. Kalau Soekarno Hatta menduduki peringkat ke 8 sebagai bandara paling sibuk di dunia maka Heathrow ini ada di posisi nomor 5. Kok kesannya megah sekali ya si Heathrow. Makanya saya pun dari dulu penasaran banget sama bandara ini. Heathrow here I come.

Here I come pantat tepos maksudnya..

Ternyata duduk 16 jam di pesawat itu luar biasa pegelnya. Untungnya maskapai SQ memang top banget buat urusan menjamu penumpang. Makanan enak dan camilan 24 jam gak berhenti-henti keluar. Berlaku juga buat alkohol. Ada bapak-bapak bule yang kayaknya tiap setengah jam sekali minta tambah wine, all night long…..tapi ga ke kamar-kamar mandi. Pak pinjamkan kami kekuatan supermu itu Pak

Urusan makanan beres sekarang urusan mata. Kayaknya 16 jam gak mungkin tidur melulu kan ya. Untungnya ada in flight entertaiment yang siap dengan film-film masa kininya. Dari Man of Steel sampai How I met your mother season 6 juga ada. Harta karun banget buat team Barney-Robin kayak saya. Meskipun ujung-ujungnya sih bukan nontonin film tapi nontonin ini

Gak nyampe-nyampe maaak

Gak nyampe-nyampe maaak

Ngomong-ngomong kelamaan duduk di kursi sempit dan kalau liat ke luar jendela langitnya gelap banget itu rada-rada bikin parno yaa. We’re out of nowhere,cuma bisa pasrah ke Tuhan dan percaya sama kemampuan pilot dan para petugas2 ATC. Deepest condolences buat keluarga dari MH 17 dan MH 370 dan keluarga korban kecelakaan pesawat lainnya. Semoga amal ibadah para korban diterima olehNya.

Paginya ketika bangun saya ada di atas langit Perancis. Heathrow sudah mulai tercium baunya begitupun bau napas naga manusia manusia di pesawat. Untung ada handuk panas dan makanan enak yang membantu banget mengembalikan energi. Dan beberapa jam kemudian kami akhirnya mendarat!! *sujud syukur pantat gw ga tepos lagi*

MENDARAAAAT

Welcome to Heathrow

We're in Heathrow boooyaaah

We’re in Heathrow boooyaaah

Belum sikat gigi apalagi mandi. Terimalah bau nagaku London. Haaaah

Di bagian belakang Bandara Heathrow. Belum sikat gigi apalagi mandi. Terimalah bau naga ini wahai London. Haaaah

 

Tips buat perjalanan jauh kayak gini :

1.Make sure obat-obatan penting ada di handbag kamu dan gak hanya di tas kabin apalagi di bagasi

2.Kalau obatnya penting atau keliatan remeh padahal penting banget kayak minyak kayu putih ada baiknya bawa cadangannya juga. Kejadian ke saya, minyak kayu putih jatuh menggelinding ke lantai bawah pesawat di tengah malam buta dan semua orang lagi tidur, padahal sesak napas karena kedinginannya lagi kambuh.

3.Playlist! playlist! playlist! Musik itu maha penting.Apa lagi yang bisa bikin kamu gak kesepian waktu semua orang sudah tidur? Musik di playlist yang sudah kamu bikin pastinya. Berguna juga buat mengahalau suara ngorok orang2 di depan belakang samping..

(to be continued…)

 

 

The Script of life

For some reason,selama satu setengah tahun terakhir ini saya tidak berani mendengarkan lagu The Script yang berjudul Breakeven ataupun The Man Who can’t be moved. Alasan yang pasti sudah bisa ditebak kalau dilihat dari lirik 2 lagu yang dibawakan dengan sangat apik oleh Danny O’Donoghue (who is the second sexiest coach of The Voice (UK) next to Adam Levine) itu. Tiap denger intro Breakeven saya langsung kabur atau berusaha mengalihkan pikiran ke hal lain dan pura-pura ga denger. Sialnya, setahun-dua tahun kemarin lagu ini lagi tenar-tenarnya. Jangankan restoran atau mall, masa  sampai tukang dvd yang jualan di pinggir jalan juga memutar 2 lagu itu! Rasanya saya ingin kabur ke Timbuktu menemani Donal Bebek! Tapi bagaimana kalau lagu itu hits juga sampai Timbuktu? Masa iya disana ga ada orang patah hati?

What am I supposed to do when the best part of me was always you,
And what am I supposed to say when I’m all choked up that you’re ok
I’m falling to pieces, yeah,
I’m falling to pieces

itu

dan ini….

I know it makes no sense, but what else can I do
How can I move on when I’m still in love with you

Hampir dua tahun kemudian tepatnya kemarin, saya sedang menonton The Voice season 1. Di salah satu episode ada seorang peserta bernama Xenia yang menyanyikan lagu Breakeven. Suaranya bagus, pembawaaannya ketika menyanyikan lagu itu juga enak dilihat. Saya seperti terhipnotis dan berhasil mendengarkan lagu itu sampai selesai dan tidak merasakan apa-apa. Ga pengen kabur ke Timbuktu atau tiba-tiba nangis. Okay, mungkin itu efek si Xenia ini,pikir saya.

Tapi hari ini tanpa sengaja saya mendengar lagi lagu itu. Dibawakan langsung oleh Danny O’Donaghue di acara The Voice UK dan kembali lagi saya berhasil mendengarkan lagu itu sampai habis. Bahkan…saya ulang-ulang terus. Kenapa? Simple,karena saya sebenarnya sangat menyukai Breakeven dan kangen lagu itu.

Menyukai-membenci-dan menyadari ternyata kamu tidak membencinya, itu sebuah proses. Proses untuk menyadari bahwa kamu hanya membencinya karena dia mengiringi kisah yang kamu benci. Proses untuk menyadari begitu banyak hal yang kamu lewatkan ketika kamu sedang mencoba untuk move on.

Maybe this is one of the best things about Moving on…ketika kamu sudah bisa mendengarkan lagi lagu favorit kamu tanpa harus merasa tertekan atau ngejar pesawat dan kabur ke Timbuktu..

What am I gonna to do when the best part of me was always you ? -The Script

well,I’m moving on

For better for worse

Inget gak film-film romantis yang ngeliatin pasangan yang caring for each other sampai tua, setia sampai mati and live happily ever after ? Inget ? Okay. Postingan yang ini gak akan ngebahas live happily ever after because it rarely happens (doesn’t it? ) BUT you know what do exist ? For better or worse till death do us part.

My mom has been sick since 10 years ago. I still remember that day as one of the worst days of my life. Kira-kira jam 8 malam mama sama papa lagi ngobrol-ngobrol biasa ketika tiba-tiba mama teriak-teriak dan bilang pinggangnya sakit banget sampai gak bisa jalan. Untung adiknya mama ada yang dokter dan bisa langsung datang ke rumah. Diagnosa pertamanya adalah kekurangan kalsium. Mama dikasih obat dan istirahat. That night I had flu jadi harus minum obat yang bener-bener bikin ngantuk . So I closed my eyes dan berharap everything will be fine. Besoknya, ternyata tidak ada perubahan dan mama harus digotong ke rumah sakit. Dan ditengah-tengah teriak kesakitannya tau ga apa yang mama bilang ke adiknya yang ada di sebelahnya ? Mama bilang ” Tolong jaga anak-anak saya”

Since that day dimulailah petualangan-petualangan baru semacam rollercoaster untuk papa, saya dan adik saya yang saat itu masih kelas 6 SD. Mama didiagnosa pecah pembuluh darah di tulang belakang or something like that. Dari yang biasanya aktif banget arisan,nganter jemput anak-anaknya kemana-mana sekarang harus terus-terusan di tempat tidur gak bisa gerak. We spent 40 days in the hospital. Ada 5 dokter yang nanganin mama yang mengambil keputusan kalaupun dioperasi kemungkinan suksesnya kecil.

Pada akhirnya kita semua jadi terbiasa, mungkin ini sudah jalannya, walaupun mimpi saya adalah bisa belanja bulanan lagi sama mama, Saya menganggap impian itu sudah harus dikubur dan belajar ikhlas…and time flies.10 tahun kemudian, Mama udah bisa jalan dikit-dikit tapi harus pakai tongkat,walker dan kursi roda. Kakinya sudah mengecil mungkin karena sudah kelamaan. Dokter ? Check. Second opinion ? check. Pengobatan alternatif ? Check Check Check. Tapi mungkin sudah jalannya Tuhan kalau pengobatan-pengobatan itu belum terlalu berhasil. But you know when life gives you a lemon, God will also give you a nice cup of relaxing tea. We’ve been good. We have the best dad in a whole world. Despite the ups and downs,we’ve been good.

Sampai ada salah satu sahabat Papa yang bilang ada pengobatan alternatif yang manjur banget di daerah Bekasi (Hint : Sakura Regency, Jati Asih) namanya pengobatan Haji Zen. Katanya orang-orang yang tadinya gak bisa jalan bertahun-tahun jadi sembuh setelah sebulan atau dua bulan pengobatan. So okaay we gave it a try. Pengobatannya dimulai jam 10 atau jam 11 Malam sampai subuh. Cara ngobatinnya cuma dipijet-pijet saja ga lebih dari 5 menit bahkan ada yang semenit beres. Mungkin karena pengobatannya cepat dan tidak pasang tarif jadi pasiennya penuh sekali tiap malam. Bisa sampai 200 lebih. Pak Haji Zen optimis Mama bisa sembuh lagi tapi harus tiap hari berobat. And yes, my mom bolak balik Bandung-Bekasi tiap malam.Berangkat jam 7 pulang jam 2 pagi. Untungnya yang pake kursi roda diutamakan jadi mama gak usah nunggu sampai subuh buat diobati.

Dan di tempat yang sangat crowded itu, banyak banget suami-suami yang nganterin istrinya atau sebaliknya. Gak cuma pasangan tua aja tapi pasangan-pasangan yang masih muda juga banyak. Ada anak yang nganterin ibunya,neneknya atau sebaliknya ada seorang Ibu dari Jawa yang dengan sabar menunggui anaknya tiap malam.

“Suami saya sudah sakit 7 tahun” tutur seorang ibu paruh baya yang tiap malam menemani suaminya berobat

“Saya dari Sidoarjo dateng kesini buat nemenin anak saya” kata Ibu-Ibu muda berumur 26 tahun beranak 3 yang anaknya sakit panas waktu bayi sehingga tidak bisa jalan

“Istri saya sakitnya dari Maret” bilang suami muda dan tampan yang mengantar ibu dari 3 anaknya tiap hari tanpa kecuali.

Bayangkan gimana chaosnya  jam 11 malam 100 pasien ditemani 1 atau 2 orang yang nungguin di tempat yang kecil dan tidak ada tempat duduk. Tapi para suami, istri,ibu, anak, nenek-nenek,kakek-kakek yang menemani para kerabatnya itu sama sekali tidak mengeluh. Berbagai pasien dengan berbagai penyakit ringan maupun sudah kronis berkumpul disitu tiap malam dan berbagi cerita.

Banyak kakek nenek disitu tapi tidak seperti novel atau film dimana cinta mereka dibuktikan dengan bersama sampai tua. Cinta mereka dibuktikan ketika pasangannya sakit dan harus berobat tengah malam dan mereka masih setia menemani walaupun tidak duduk berjam-jam.

Dan ketika saya melihat ayah saya yang habis operasi kaki masih semangat mendorong mama yang duduk di kursi roda ke mobil kami yang diparkir agak jauh, I learned about for better for worse till death do us part dan hey, mungkin mimpi saya belanja bulanan bareng mama bisa kesampaian *winks to above*

Suasana di tempat pengobatan